Ayat 45 surat Al-‘Ankabut membahas filsafat agung shalat. Ayat itu berbunyi, “Sesungguhnya shalat itu mencegah [manusia] dari perbuatan yang keji dan mungkar.”
Pada dasarnya, hakikat shalat adalah mengajak manusia untuk mengetahui faktor pencegah paling kuat (dalam diri manusia). yaitu keyakinan terhadap wujud Allah (permulaan) dan Hari kebangkitan (ma’âd) yang berpengaruh kuat dalam mencegah manusia dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.
Seseorang yang berdiri untuk melakukan shalat dan mengucapkan takbir, mengakui bahwa Allah swt.; Dzat yang Lebih Baik dan Lebih Tinggi dari segala yang ada dan akan mengingat semua kenikmatan yang telah diberikan oleh-Nya. Dengan mengucapkan pujian dan syukur, ia memohon curahan kasih dan sayang-Nya, mengingat hari pembalasan, mengakui ketundukan, melakukan penyembahan kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya, meminta petunjuk dari-Nya untuk mendapatkan jalan yang lurus, dan memohon perlindungan sehingga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah dimurkai oleh-Nya serta tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tersesat. (Kandungan dari surat Al-Fatihah).
Tanpa syak lagi, manusia yang mempunyai kalbu demikian akan memahami bahwa setiap langkah perjalanannya akan mengarah kepada sesuatu yang hak dan benar, gerakannya akan menuju kepada kesucian dan kesempurnaan, dan lompatannya akan melesat ke arah ketakwaan
Manusia semacam ini, ketika melakukan shalat dengan membungkukkan badannya untuk ruku’, laksana seorang hamba dan meletakkan dahi di atas permukaan tanah di haribaan suci-Nya untuk mengakui kebesaran dan kemuliaan-Nya dan tenggelam dalam keagungan-Nya, serta menghapus segala ego dan kesombongan yang ada pada dirinya.
Lalu ia pun akan mengucapkan syahadat untuk memberikan kesaksian atas keesaan-Nya dan risalah Rasul-Nya.
Setelah itu, ia mengirimkan shalawat kepada utusan-Nya yang mulia, Rasulallah saw. dan menengadahkan kedua tangannya di bawah mihrab sucinya-Nya untuk memohon belas kasih supaya dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang salih.
Semua faktor ini akan memunculkan semangat spiritual dalam dirinya; sebuah gelombang besar yang mampu melebur dan meluluhlantakkan setiap dosa yang menumpuk di hadapannya.
Amal semacam ini terulang beberapa kali dalam sehari semalam. Bahkan, ketika ia terbangun dari tidurnya di pagi hari yang masih gulita pun, ia telah tenggelam dalam kenikmatan mengingat-Nya.
Di pertengahan hari, ketika ia telah disibukkan oleh kehidupan materi, tiba-tiba suara takbir muazin akan menghentakkan dan menyadarkannya untuk menghentikan sejenak apa yang sedang dikerjakannya, kemudian bergegas mempersiapkan diri menghadap ke pelukan Sang Kekasih. Bahkan pada akhir hari dan permulaan malam sebelum menuju ke tempat istirahatnya pun, ia masih menyempatkan diri untuk mencurahkan seluruh isi hatinya, mengadu, menangis, meratap, berkeluh kesah kepada Sang Pemilik Hati dan menciptakan hatinya sebagai pusat cahaya-Nya.
Setelah itu dan untuk selanjutnya, pada saat menyambut kedatangan shalat, terlebih dahulu ia akan memulainya dengan mencuci dan menyucikan diri, menjauhi segala hal yang haram dan menghindarkan diri dari kemarahan, kemudian bergegas mendatangi tempat Sang Kekasih yang penuh dengan persahabatan. Demikianlah, seluruh faktor ini mempunyai efek dalam mencegah diri ketika berhadapan dengan hal-hal yang keji dan mungkar.
Hanya saja, efek shalat itu sesuai dengan terpenuhinya syarat-syarat kesempurnaan dan ruh ibadah dalam mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, yang terkadang hal ini dapat membentuk sebuah sistem kontrol pada segala kondisi, terkadang pula pada kondisi-kondisi tertentu dan terbatas.
Adalah mustahil terjadi jika seseorang yang telah melakukan shalat tidak mendapatkan sedikitpun efek dari apa yang telah ia lakukan, betapapun shalat yang dilakukannya hanya bersifat formalitas saja dan betapapun orang yang melakukan shalat adalah orang yang bergelimang dengan dosa. Tentu saja pengaruh dari shalat yang dilakukan oleh orang-orang semacam ini tidak akan pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, bila mereka meninggalkan shalat, sudah pasti akan semakin hanyut dan bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa.
Lebih jelas kami tekankan bahwa pencegahan shalat dari perbuatan keji dan mungkar memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda. Dan setiap shalat apabila diukur dengan perhatian terhadap syarat-syarat yang dimilikinya, akan mampu menduduki sebagian dari derajat-derajat tersebut.
Di dalam salah satu hadis, dinukil bahwa pada masa Rasulullah saw., terdapat seorang pria muda dari kaum Anshar yang senantiasa mengikuti shalat yang dilakukan oleh Rasul saw. Tetapi, pada sisi lain ia masih senantiasa bergelimang dalam berbagai maksiat. Lalu, hal ini disampaikan kepada Rasul saw. Setelah mendengar laporan ini beliau bersabda, “Suatu hari nanti shalatnya dapat mencegahnya dari perbuatan-perbuatannya tersebut.”
Sedemikian pentingnya pengaruh shalat, hingga pada sebagian riwayat Islam disebutkan bahwa bias yang akan muncul dari pelaksanaan shalat akan menjadi tolok ukur apakah shalat yang dilakukan oleh seseorang telah diterima di sisi-Nya ataukah belum. Imam Ash-Shadiq a.s. dalam salah satu hadis berkata, “Seseorang yang ingin melihat apakah shalatnya telah diterima oleh Allah swt atau belum, hendaklah ia melihat apakah shalat yang telah dilakukannya ini dapat mencegahnya dari perbuatan yang keji dan mungkar atau tidak? Sejauh mana ia telah tercegah dari hal-hal tersebut, sekadar itu pulalah shalat yang dilakukannya telah dikabulkan di sisi-Nya”.
Kelanjutan ayat di atas menegaskan,”Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain].”
dzahir ungkapan ini menjelaskan sisi lain dari filsafat shalat. Bahkan, ia mempunyai kedudukan lebih tinggi dan lebih penting dari mencegah perbuatan keji dan mungkar itu sendiri. Efek tersebut adalah, bahwa dengan melakukan shalat, manusia dituntun untuk senantiasa mengingat Allah swt. Hal ini merupakan akar dari segala kebaikan dan kebahagiaan. Bahkan, dapat diakui bahwa unsur utama dari pencegah perbuatan keji dan mungkar adalah mengingat Allah (dzikrullah). Keutamaan mengingat Allah dikarenakan dzikir merupakan sebab dari pencegahan tersebut.
Pada prinsipnya, mengingat Allah swt. merupakan inti detak kehidupan kalbu manusia dan puncak ketenangan hati. Tidak ada sesuatu pun selainnya yang bisa mencapai tingkatan semacam ini.
Di dalam surat Ar-Ra‘d [13], ayat 28 ditegaskan, “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”
Pada dasarnya, ruh seluruh ibadah —baik ibadah shalat maupun selain shalat— adalah mengingat Allah swt. Berbagai bacaan, gerakan, mukaddimah, ta’qîb, doa, dan selainnya yang dilakukan dalam shalat, sebenarnya adalah untuk menghidupkan ruh zikir kepada Allah swt di dalam hati manusia.
Perlu diperhatikan bahwa di dalam ayat 14 surat Thaha telah diisyaratkan prinsip filsafat shalat. Kepada Nabi Musa a.s. Allah swt. berfirman, “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
Dalam sebuah hadis diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik dari amal manusia yang bisa menyelamatkan mereka dari azab Ilahi selain mengingat-Nya.” Lalu, Mu'adz bertanya kepada beliau, “Meskipun jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Iya! Karena Allah swt. berfirman, ‘Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain].’”
Efek Shalat dalam Mendidik Individu dan Masyarakat
Meskipun filsafat shalat bukanlah rahasi bagi seseorang, akan tetapi pemberian atensi yang besar terhadap teks ayat dan riwayat Islam akan menuntun kita pada berbagai pekerjaan yang lebih mengakar dalam masalah ini.
a. Hakikat, prinsip, tujuan, pondasi, mukaddimah, hasil, dan —pada akhirnya— filsafat shalat adalah mengingat Allah swt. yang pada ayat di atas ditegaskan, bahwa zikir memberikan hasil yang paling tinggi dibandingkan ibadah-ibadah yang lain.
Tentu saja yang dimaksud dengan zikir di sini adalah zikir sebagai mukaddimah berpikir, dan berpikir yang dilandasi oleh keinginan untuk mengaktualkannya. Imam Ash-Shadiq a.s. dalam salah satu hadis ketika menafsirkan ayat waladzikrullâh Akbar berkata, “(Zikir adalah mengingat Allah ketika hendak melakukan pekerjaan halal dan haram.” (Yaitu, mengingat Allah awt. ketika melakukan perbuatan yang halal dan menutup mata dari perbuatan yang haram).
b. Shalat merupakan media menyucikan diri dari dosa-dosa dan memohon pengampunan Ilahi, karena —mau tidak mau— shalat yang dilakukan oleh manusia akan mengajaknya untuk mengoreksi diri, memperbaiki diri, dan bertaubat atas apa yang telah dilakukan pada masa lalu. Oleh karena itu, dalam salah satu hadis kita membaca, Rasulallah saw. pernah bertanya kepada para sahabat, “Apabila di hadapan pintu rumah Kamu terdapat sebuah sungai yang mengalir dengan bening dan bersih, kamu mandi dan mencuci badannya lima kali dalam sehari semalam di dalam sungai itu, Apakah masih tersisa daki dan kotoran di badan Kamu?” Mereka menjawab, “Tidak ada, ya Rasulallah!” Lalu beliau melanjutkan,“Shalat sebagaimana halnya air mengalir itu. Setiap saat seseorang melakukan shalat, maka dosa-dosa yang dilakukannya di antara dua shalatnya akan terhapus dan menjadi bersih karenanya.”
Dan dengan shalat ini, luka, barutan, dan goresan dosa yang ada di dalam ruh dan jiwa manusia akan sembuh karena kemanjuran obat yang berbentuk shalat ini, dan karat-karat yang terdapat di dalam kalbunya pun akan menjadi bersih kembali dengan melakukan shalat.
c. Shalat merupakan tanggul penghalang dalam menghadapi serangan dosa-dosa yang akan datang, karena sesungguhnya shalat akan menguatkan iman di dalam kalbu manusia dan menumbuhkan tunas-tunas ketakwaan baru di dalam hatinya. Kita mengetahui bahwa “iman” dan “takwa” merupakan tanggul yang paling kuat untuk menahan goncangan dosa, dan ini merupakan maksud dalam ayat di atas bahwa shalat adalah pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan merupakan maksud dari banyak hadis yang mengatakan bahwa terdapat sekelompok orang yang senantiasa melakukan dosa, lalu kondisi mereka itu diceritakan kepada para imam a.s. Mereka berkata, “Janganlah bersedih, karena shalat akan memperbaiki mereka”, dan ternyata memang demikian.
d. Shalat akan Menghancurkan Kelalaian
Musibah paling besar yang dialami oleh para pencari jalan kebenaran adalah lalai terhadap tujuan penciptaan dan tenggelam dalam kehidupan materi serta kelezatan-kelazatan duniawi yang hanya sekejap. Tetapi, dengan adanya variasi hukum dalam setiap jaraknya dan pelaksanaannya secara kontinyu yang dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam, shalat akan senantiasa membunyikan lonceng peringatan kepada manusia dan akan membangun ingatannya untuk senantiasa sadar terhadap tujuan penciptaan.
Dengan shalat, kehadiran-Nya di alam ini akan senantiasa diperdengarkan, dan merupakan suatu kenikmatan yang sangat besar bahwa manusia mempunyai sarana dan fasilitas yang berada dalam ikhtiyarnya, sehingga dengan alat yang dimilikinya ini ia selalu terjaga secara kuat beberapa kali dalam sehari semalan.
e. Shalat menghilangkan kesombongan dan 'ujub
Dengan shalat, kesombongan dan rasa kagum terhadap diri sendiri akan bisa terberangus dari diri manusia. Karena selama sehari semalam manusia melakukan tujuh belas rekaat shalat, di mana dalam setiap rekaatnya, ia meletakkan dahinya di atas tanah sebanyak dua kali dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Ia menganggap dirinya hanyalah butiran yang begitu kecil yang tak berharga dibandingkan dengan keagungan-Nya, bahkan menganggap dirinya bukanlah apa-apa ketika berada di hadapan Dzat Yang Tak Terbatas.
Shalat akan menyibakkan tirai-tirai kesombongan dan egoisme manusia, serta memporak-porandakan kesombongan dan rasa puas pada diri sendiri.
Dengan dalil inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. dalam sebuah hadis terkenal yang merefleksikan filsafat ritual Islam setelah iman, dalam rangka menjelaskan ibadah shalat berkata, “Allah mewajibkan iman untuk membersihkan manusia dari syirik dan mewajibkan shalat untuk membersihkan diri dari kesombongan.”
f. Shalat sebagai penyempurnaan akhlak.
Shalat merupakan mediator kesempurnaan akhlak dan spiritualitas manusia, karena shalat akan mengeluarkannya dari dunia materi yang terbatas dan dari ruang lingkup empat sisi dinding alam natural, lalu mengajaknya melesat terbang ke langit malakut dan menyatukannya dengan barisan para malaikat. Setelah itu, ia akan melihat dirinya berada di hadapan -Nya tanpa membutuhkan sedikitpun mediator, dan ia pun akan melihat betapa dirinya telah mampu melakukan perjumpaan dengan Nya.
Pengulangan amal ini dalam sehari semalam yang dilakukan dengan menyandar pada sifat-sifat Allah yang Pengasih, Penyayang dan keagungan yang dimiliki-Nya, khususnya dengan bertawassul kepada surat-surat yang bervariasi dalam Al-Qur’an setelah selesai membaca Al-Fatihah, merupakan penggerak ke arah kebaikan dan kesucian yang paling utama. Dan hal ini mempunyai pengaruh yang tidak sia-sia dalam pembinaan keutamaan akhlak di dalam wujud manusia.
Oleh karena itu, dalam salah satu hadis mengenai filsafat shalat, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata, “Shalat merupakan perantara untuk bertaqarrub dan mendekatkan diri kepada Allah bagi setiap orang yang bertakwa.”
g. Shalat mengisi nilai pada seluruh amal
Shalat memberikan nilai dan ruh pada keseluruhan amal yang dilakukan oleh manusia. Karena shalat akan menghidupkan hakikat keikhlasan, dimana shalat merupakan kumpulan dari niat yang murni dan perkataan yang suci, serta amal-amal yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Pengulangan amal-amal tersebut secara keseluruhan dalam sehari semalam akan menyebarkan bibit-bibit amal yang terpuji di dalam jiwa manusia dan akan menguatkan keikhlasan yang ada di dalam wujudnya.
Oleh karena itu, dalam salah satu hadis terkenalnya, Amirul Mukminin Ali bi Abi Thalib a.s. ketika berwasiat setelah terluka oleh hujaman pedang Ibnu Muljam (la’natullah ‘alaih) berkata, “Jagalah shalat! Karena sesungguhnya shalat merupakan tiang dari agamamu.”
Kita mengetahui bahwa apabila tiang yang dipergunakan untuk mendirikan kemah patah atau roboh, maka betapapun kuatnya tali dan paku-paku yang tertancap di sekitarnya tidak akan membawa pengaruh sedikitpun untuk tegaknya kembali kemah tersebut. Demikian juga halnya ketika tidak ada lagi komunikasi antara hamba dengan Tuhannya yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat, maka amal yang lainnya pun akan menjadi kehilangan pengaruh.
Dalam sebuah hadis, Imam Ash-Shadiq a.s. berkata, “Masalah pertama yang akan dihisab oleh Allah dari hambaNya pada Hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya terkabul, akan terkabul pula seluruh amalnya yang lain dan apabila shalat ini tidak diterima, maka akan gagal pulalah seluruh amal-amal yang lain.”
Mungkin dalil ucapan beliau ini adalah, bahwa shalat merupakan rumus dan rahasia komunikasi antara makhluk dengan Khaliqnya. Apabila hal ini dilakukan dengan cara yang benar, maka niat taqarrub dan keikhlasan yang merupakan syarat terkabulnya keseluruhan amal akan bisa hidup dalam dirinya, dan apabila tidak, maka amal-amal yang lainnya akan menjadi kotor dan terpolusi sehingga akan menyebabkannya keluar dari derajat yang disyaratkan.
h. Shalat membawa kesucian hidup
Meskipun tanpa memperhatikan kandungan yang ada di dalam shalat, yaitu dengan memperhatikan validitasnya, pada hakikatnya ia mengajak manusia untuk hidup dalam kesucian. Hal ini dapat kita ketahui dari syarat tempat yang dipergunakan untuk melakukannya, pakaian yang dikenakan, alas dan air yang dituangkan untuk berwudhu serta mandi. Dan juga tempat yang dipergunakan oleh seseorang untuk mandi dan berwudhu harus merupakan tempat yang betul-betul tidak terkotori oleh ghasab dan tidak diperoleh dengan cara zalim dan melanggar hak-hak orang lain. Seseorang yang terkotori dengan kezaliman, ternodai oleh sifat-sifat kelewatan, riba, ghasab, mengurangi timbangan dalam transaksi, korupsi dan usaha-usaha yang dilakukan dengan menggunakan kekayaan yang haram, bagaimana ia bisa menyiapkan mukadimah shalat? Oleh karena itu, pengulangan shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam merupakan sebuah ajakan untuk menghormati hak-hak yang dimiliki oleh orang lain.
i. Shalat sebagai Pelindungan Diri dari Maksiat
Shalat selain harus mempunyai syarat keabsahan dan syarat keterkabulan, atau dengan kata lain, harus mempunyai syarat-syarat yang sempurna dalam dua hal tersebut, juga merupakan sebuah elemen yang efektif untuk meninggalkan begitu banyak perbuatan dosa.
Dalam kitab-kitab fiqih dan sumber hadis disebutkan begitu banyak faktor lain yang bisa menjadi referensi dari terkabulnya seatu shalat. Di antaranya, tentang meminum khamar (minuman keras) yang dalam sebuah riwayat ditegaskan, “Selama empat puluh hari, tidak akan diterima shalat seseorang yang meminum minuman keras, kecuali apabila ia bertaubat.”
Dalam banyak riwayat kita membaca, “Salah satu dari golongan yang shalatnya tidak akan dikabulkan oleh Allah adalah shalat yang dilakukan oleh kaum zalim dan penganiaya.”
Dalam sebagian riwayat lain telah ditegaskan bahwa shalat yang dilakukan oleh seseorang yang tidak membayar zakat tidak akan pernah terkabul. Demikian juga riwayat yang lain mengatakan bahwa memakan makanan haram, mengagumi diri sendiri, sombong, dan takabur merupakan salah satu penghalang bagi terkabulnya shalat. Dari sini bisa dipahami, sejauh manakah pengaruh konstruktif yang akan didapatkan seseorang dengan terpenuhinya syarat-syarat keterkabulan tersebut.
j. Shalat Penguat Semangat Disiplin
Shalat akan menguatkan semangat disiplin dalam diri manusia, karena bagaimanapun juga, shalat harus benar-benar dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Pelaksanaan shalat yang dilakukan dengan mengakhirkan atau mempercepat dari waktu yang seharusnya akan menyebabkan batalnya shalat yang dilakukan oleh seseorang. Demikian juga dengan aturan dan hukum-hukum lain dalam masalah niat, berdiri, ruku’, dan sujud. Memperhatikan semua ini akan menumbuhkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari menjadi betul-betul mudah dan lancar.
Semua poin di atas merupakan manfaat yang terdapat di dalam shalat dengan tanpa memperhatikan masalah shalat berjamaah. Namun bila keistimewaan shalat berjamaah ini kita tambahkan dalam diskursus di atas, di mana sebenarnya ruh dan hakikat shalat terletak pada shalat berjamaah, kita akan menemukan berkah yang tak terhitung banyaknya. Tetapi, pembahasan tentang shalat berjamaah bukan tempatnya untuk kami diskusikan di sini. Selain itu, sedikit banyak kita pun telah mengetahuinya.
kami menutup pembahasan tentang filsafat dan rahasia shalat dengan sebuah hadis yang telah dinukil dari Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.
Dalam menjawab surat yang menanyakan filsafat shalat, beliau berkata, “Tujuan disyariatkannya shalat adalah atensi dan pengakuan terhadap ketuhanan Allah swt, melawan syirik dan penyembahan berhala, berdiri di hadapan haribaan-Nya dalam puncak kekhusyukan dan kerendahan diri, mengakui dosa-dosa serta memohon pengampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya, dan meletakkan dahi di seluruh hari untuk berkhidmat kepada-Nya.
Demikan juga, tujuan disyariatkannya shalat adalah supaya manusia senantiasa terjaga dan berpikir sehingga tidak ada lagi debu-debu kelalaian yang akan singgah di dalam hatinya, supaya manusia tidak sombong dan mabuk dengan dirinya, supaya manusia menjadi orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu’, serta mencari dan mencintai bertambahnya pemberian segala sesuatu dalam agama dan dunianya.
Selain konsistensi zikir kepada Allah sepanjang hari dan malam yang dihasilkan dari sinar shalat, shalat akan membuat manusia tidak melupakan Pengatur dan Penciptanya, hingga jiwa liar dan tak terkendali tidak akan mampu mengalahkannya.
Dengan perhatiannya terhadap Allah swt. dan berdiri di haribaan suci-Nya, ia akan mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan dosa dan akan menghindarkannya dari segala kerusakan.”
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Sunday, 17 January 2010
Saturday, 16 January 2010
Hikmah Dibalik Pergantian Tahun
Hari demi hari berlalu. Demikian juga minggu, bulan, dan tahun. Kita, baik sebagai individu maupun masyarakat , dalam hari-hari yang berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran yang setiap tahun kita tutup untuk kemudian kita buka kembali dengan lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah
hidup kita secara amat rinci, dan itulah kelak yang akan
disodorkan kepada kita - sebagai individu dan masyarakat - untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada Hari Kemudian nanti.
Bacalah lembaran (kitabmu), cukuplah engkau sendiri hari ini yang akan melakukan perhitungan atas dirimu (QS 17:14). Engkau akan melihat setiap umat berlutut, setiap umat diajak untuk membaca kitab amalan (sejarahnya) (QS 45:28).
Al Quran adalah buku pertama yang menegaskan bahwa bukan hanya individu, tetapi juga bangsa dan masyarakat, mempunyai hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengarahkan dan menentukan keruntuhan dan kebangkitannya. Masyarakat terdiri dari individu-individu ,
dan manusia sebagai individu mempunyai potensi untukmengarahkan masyarakat dan diarahkan olehnya. Karena itu, manusia sebagai individu dan manusia sebagai kelompok masyarakat bertanggung jawab
atas dirinya dan atas masyarakatnya. Dari sinilah lahir apa yang dikenal dalam istilah hukum Islam sebagai fardhu ain dan fardhu kifayah.
Tuhan tidak mengubah keadaan suatu masyarakat , sebelum mereka mengubah (terlebih dahulu) sikap mental mereka (QS 13:11). Begitu bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan ekonomi sejarah dan secara tegas pula menempatkan sikap terdalam manusia
sebagi faktor penentu kelahiran sejarah. Dari sini dapat dipahami, mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam itu dalam jiwa umat. Darimana Anda Datang? Kemana Anda menuju? Bagaimana alam ini mewujud dan ke arah mana ia
bergerak? "Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya" dan "Akhir dari segala siklus adalah kemablinya kepermulaan", demikian para sufi dan filosof Muslim merumuskan.
Itulah kesadaran pertama yang ditanamkan pada manusia. Kemudian disusul dengan kesadaran jenis kedua, yaitu kesadaran akan kemanusiaan manusia serta kehormatannya. Ruh Ilahi dan potensi berpengetahuan yang diperoleh makhluk ini dari Tuhan, mengundangnya untuk memanusiakan dirinya dengan jalan mengaktualkan pada dirinya sifat-sifat Ilahi sesuai dengan kemampuannya. Dan kesadaran ketiga yang ditanamkannya adalah kesadaran akan tanggung jawab sosial.
Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah, sedangkan kaum lemah tertindas, baik lelaki, wanita, maupun anak-anak bermohon agar mereka dikaruniai penolong dan pelindung dari sisi Allah, demikian pesan Al Quran surah Al Nisa ayat 75.
Ayat diatas mengandung dua nilai keruhanian, yakni keniscayaan berjuang di jalan Allah dan tanggung jawab melindungi kaum lemah.
Perjuangan yang dilakukan karena Allah dan yang digerakkan oleh nilai-nilai suci itulah yang memajukan umat manusia dan peradabannya sekaligus mengukir sejarahnya dengan tinta emas.
Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran di atas, maka disanalah dia memperoleh kebahagiaan abadi. Dalam hal ini Al Quran menegaskan: Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah
hidupnya dengan tangan kanannya (QS 17:71).
Quraish Shihab
dikutip dari buku "Lentera Hati": Kisah dan Hikmah Kehidupan", oleh M. Quraish Shihab, Penerbin Mizan, Maret 1995
hidup kita secara amat rinci, dan itulah kelak yang akan
disodorkan kepada kita - sebagai individu dan masyarakat - untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada Hari Kemudian nanti.
Bacalah lembaran (kitabmu), cukuplah engkau sendiri hari ini yang akan melakukan perhitungan atas dirimu (QS 17:14). Engkau akan melihat setiap umat berlutut, setiap umat diajak untuk membaca kitab amalan (sejarahnya) (QS 45:28).
Al Quran adalah buku pertama yang menegaskan bahwa bukan hanya individu, tetapi juga bangsa dan masyarakat, mempunyai hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengarahkan dan menentukan keruntuhan dan kebangkitannya. Masyarakat terdiri dari individu-individu ,
dan manusia sebagai individu mempunyai potensi untukmengarahkan masyarakat dan diarahkan olehnya. Karena itu, manusia sebagai individu dan manusia sebagai kelompok masyarakat bertanggung jawab
atas dirinya dan atas masyarakatnya. Dari sinilah lahir apa yang dikenal dalam istilah hukum Islam sebagai fardhu ain dan fardhu kifayah.
Tuhan tidak mengubah keadaan suatu masyarakat , sebelum mereka mengubah (terlebih dahulu) sikap mental mereka (QS 13:11). Begitu bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan ekonomi sejarah dan secara tegas pula menempatkan sikap terdalam manusia
sebagi faktor penentu kelahiran sejarah. Dari sini dapat dipahami, mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam itu dalam jiwa umat. Darimana Anda Datang? Kemana Anda menuju? Bagaimana alam ini mewujud dan ke arah mana ia
bergerak? "Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya" dan "Akhir dari segala siklus adalah kemablinya kepermulaan", demikian para sufi dan filosof Muslim merumuskan.
Itulah kesadaran pertama yang ditanamkan pada manusia. Kemudian disusul dengan kesadaran jenis kedua, yaitu kesadaran akan kemanusiaan manusia serta kehormatannya. Ruh Ilahi dan potensi berpengetahuan yang diperoleh makhluk ini dari Tuhan, mengundangnya untuk memanusiakan dirinya dengan jalan mengaktualkan pada dirinya sifat-sifat Ilahi sesuai dengan kemampuannya. Dan kesadaran ketiga yang ditanamkannya adalah kesadaran akan tanggung jawab sosial.
Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah, sedangkan kaum lemah tertindas, baik lelaki, wanita, maupun anak-anak bermohon agar mereka dikaruniai penolong dan pelindung dari sisi Allah, demikian pesan Al Quran surah Al Nisa ayat 75.
Ayat diatas mengandung dua nilai keruhanian, yakni keniscayaan berjuang di jalan Allah dan tanggung jawab melindungi kaum lemah.
Perjuangan yang dilakukan karena Allah dan yang digerakkan oleh nilai-nilai suci itulah yang memajukan umat manusia dan peradabannya sekaligus mengukir sejarahnya dengan tinta emas.
Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran di atas, maka disanalah dia memperoleh kebahagiaan abadi. Dalam hal ini Al Quran menegaskan: Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah
hidupnya dengan tangan kanannya (QS 17:71).
Quraish Shihab
dikutip dari buku "Lentera Hati": Kisah dan Hikmah Kehidupan", oleh M. Quraish Shihab, Penerbin Mizan, Maret 1995
ORANG-ORANG YANG DIDOAKAN OLEH PARA MALAIKAT
Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf”
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”.
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur”
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
Sumber Tulisan Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf”
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”.
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur”
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
Sumber Tulisan Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005
5 syarat untuk taubat
Setiap manusia tentunya pernah berbuat kesalahan dan tidak lepas darinya. Entah itu kepada orang tuanya, sahabatnya, tetangganya, dosennya, gurunya ataupun orang-orang yang lainnya. Bentuk kesalahan merekapun bermacam-macam entah itu menggunjingnya, menyontek, durhaka, mencela, memukulnya, mencubitnya, mencuri sampai menjatuhkan harga dirinya. Di saat manusia berbuat kesalahan, mereka ada yang menyesal kemudian langsung bertaubat kepada Alloh, ada juga yang mereka tidak menyesal sehingga terhalang untuk bertaubat kepada Alloh kemudian mereka terus-menerus berbuat kesalahan dan bertumpuklah dosanya. Sebaik-baik manusia adalah yang segera bertaubat ketika melakukan kesalahan bahkan Rosululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bertaubat kepada Alloh seratus kali dalam sehari. Anda bisa bayangkan !! Seorang Nabi yang telah di janjikan Alloh untuk terjaga dari dosa-dosa baik dosa masa lalu ataupun dosa masa datang masih senantiasa bertaubat kepada Alloh sebanyak seratus kali sehari?? Subhanalloh. Kemudian bagaimana dengan kita ?? Semoga kita termasuk golongan orang yang senantiasa bertaubat kepadaNya.
Setiap manusia tentunya pernah berbuat kesalahan dan tidak lepas darinya. Entah itu kepada orang tuanya, sahabatnya, tetangganya, dosennya, gurunya ataupun orang-orang yang lainnya. Bentuk kesalahan merekapun bermacam-macam entah itu menggunjingnya, menyontek, durhaka, mencela, memukulnya, mencubitnya, mencuri sampai menjatuhkan harga dirinya. Di saat manusia berbuat kesalahan, mereka ada yang menyesal kemudian langsung bertaubat kepada Alloh, ada juga yang mereka tidak menyesal sehingga terhalang untuk bertaubat kepada Alloh kemudian mereka terus-menerus berbuat kesalahan dan bertumpuklah dosanya. Sebaik-baik manusia adalah yang segera bertaubat ketika melakukan kesalahan bahkan Rosululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bertaubat kepada Alloh seratus kali dalam sehari. Anda bisa bayangkan !! Seorang Nabi yang telah di janjikan Alloh untuk terjaga dari dosa-dosa baik dosa masa lalu ataupun dosa masa datang masih senantiasa bertaubat kepada Alloh sebanyak seratus kali sehari?? Subhanalloh. Kemudian bagaimana dengan kita ?? Semoga kita termasuk golongan orang yang senantiasa bertaubat kepadaNya.
Dalam permasalahan taubat ini Beliau Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam telah mewasiatkan kepada kita dalam 3 hadist yang menakjubkan:
1. Dari Abu Burdah dari Al Aghor Al Muzani berkata bahwa Rosululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam telah bersabda “Sungguh keburukan itu telah membuat hatiku merasa gundah. Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Alloh seratus kali dalam sehari” (HR. Muslim).
2. Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda “Siapa saja yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat tenggelamnya, niscaya Alloh akan menerima taubatnya” (HR. Muslim).
3. Beliau juga bersabda “Setiap anak adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang orang yang bertaubat” (Hadist Shahih Riwayat Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan ad Darimi).
Para ulama mengatakan bahwa bertaubat dari segala macam dosa hukumnya wajib. Dan sesuatu yang telah dinamakan wajib harus dikerjakan dan tidak boleh di tinggalkan. Sebuah taubat di katakan sah jika memiliki 5 syarat. Sama halnya ketika anda berusaha masuk di kampus ini, andapun harus mempunyai beberapa syarat bahkan banyak syarat agar anda bisa di katakan di terima untuk menuntut ilmu di kampus ini. Begitu juga dengan taubat, taubatpun memilikinya. Diantaranya:
1. Ikhlas karena Alloh
Anda bertaubat tentunya harus mempunyai tujuan yang agung yaitu agar Alloh memaafkan dosa-dosa anda baik yang kecil maupun yang besar, baik yang di sengaja ataupun yang tidak disengaja. Kemudian agar Alloh mengganjar anda dengan pahala yang banyak dengan perbuatan taubat anda. Intinya, anda bertaubat atas dasar untuk mencari keridhoan Alloh.
2. Menyesali perbuatan
Perasaan menyesal anda karena sesuatu menunjukkan bahwa anda benar-benar ingin meninggalkan sesuatu tsb. Semisal anda mengatakan “Saya menyesal sekali berbuat demikian karena akibatnya justru menyedihkan demikian dan demikian” atau “saya menyesal sekali pinjam CD di rental fulan, ternyata banyak CD yang rusak sehingga saya di rugikan. Saya kapok” atau “Saya menyesal menyontek kemaren yang ternyata justru malah membuat saya semakin bodoh” atau kalimat-kalimat penyesalan lainnya yang bisa mengantarkan seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang telah di sesalinya. Intinya penyesalan bisa mengantarkan anda kepada taubat sedangkan tanpa merasa menyesal anda akan kesulitan untuk bertaubat.
3. Melepaskan diri dari perbuatan tsb
Syarat ketiga ini merupakan inti dari taubat maksudnya anda benar-benar melepaskan diri dari perbuatan buruk tsb karena seseorang tidak dikatakan bertaubat jika dia masih melakukan perbuatan yang telah dia taubati. Ini sungguh tidak masuk akal. Contohnya, anda mengatakan kepada teman anda “saya tidak akan mengganggumu lagi” tetapi ternyata dalam hati, anda masih mempunyai niatan untuk mengganggunya lagi. Maka apa yang anda lakukan ini adalah ejekan atau permainan kepada teman anda, dll. Kemudian dalam point ketiga ini ada rinciannya:
a. Jika dosa itu berupa meninggalkan kewajiban. Maka untuk terhindar dari dosa tsb anda harus melaksanakan kewajiban tsb.
Contohnya, anda sering meninggalkan sholat kemudian anda bertaubat. Maka yang harus anda lakukan adalah anda tidak lagi meninggalkan sholat, anda sering marah-marah dengan orang tua anda atau bisa di katakan anda kurang berbakti kepada mereka. Maka yang harus anda lakukan adalah anda segera berbakti kepada mereka, dll.
b. Jika dosa itu berupa perbuatan tipu daya atau kebohongan. Maka untuk terhindar darinya anda harus meninggalkan perbuatan tsb.
Contohnya, anda mempunyai kebiasaan menyontek ketika ujian dan kita sepakat ini adalah perbuatan buruk dan dosa. Maka untuk lepas dari dosa menyontek anda harus segera meninggalkannya. Kemudian contoh lain, anda mendapati bahwa teman anda telah mendapatkan uang dari jalan yang haram yaitu dia mencuri barang berharga dari teman anda yang juga sekelas. Lalu teman anda yang mencuri ini ingin bertaubat. Maka anda bisa menasehatkan kepadanya untuk mengembalikan harta yang di curinya, meminta maaf dan segera meninggalkan perbuatan mencuri tsb, dll.
4. Anda bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa datang
Jika suatu saat anda berniat ingin mengulanginya lagi bila ada kesempatan, maka taubat anda tidak di terima atau bisa di katakan anda hanya main-main dengan taubat anda. Contohnya, suatu hari anda bertaubat dari menyontek kemudian anda mempunyai niatan lagi untuk melakukannya di masa mendatang. Maka taubat anda tidak di terima karena anda tidak bersungguh-sungguh dalam melakukannya bahkan anda ingin melakukannya lagi. Taubat jenis ini adalah taubatnya orang yang lemah. Maksudnya orang yang lemah imannya. Semoga kami dan anda terhindar darinya. Dalam point ini intinya adalah tiada niatan untuk bermaksiat kembali.
5. Anda bertaubat di saat di terimanya waktu-waktu taubat. Maksudnya???...
Jadi waktu taubat itu terbagi menjadi 2 dan perinciannya :
a. Taubat harus di lakukan sebelum ajal tiba atau sebelum nyawa anda berada di kerongkongan.
Jika seseorang bertaubat di saat ajal tiba maka taubatnya tidak ada gunanya dan tidak ada manfaat baginya. Taubat ini di lakukan karena terpaksa sehingga tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak terima. Silahkan baca dalilnya dalam surat An Nisa’ ayat 18 dan surat Ghaafir ayat 84 dan 85.
Contohnya, ada seseorang gemar menyontek bahkan di semua ujian dia melakukannya. kemudian suatu saat dia menderita penyakit yang sangat parah sehingga mengharuskannya untuk di rawat di Rumah Sakit. Lantas dia sekarat dan hendak bertaubat dari menyontek kemudian dia mengatakan “Saya bertaubat dari menyontek sekarang”. Berdasarkan Surat An Nisa’ ayat 18 maka taubatnya tidak di terima dan dia meninggal dalam keadaan membawa dosa menyontek. Dan di hari kiamat kelak hanya ada 2 pilihan baginya : Alloh akan mengampuni dosa menyonteknya atau Alloh akan menyiksanya di neraka karena dosa menyonteknya. Semoga kami dan anda terhindar darinya.
b. Saat-saat taubat secara umum
Maksudnya, sebelum matahari terbit dari barat dan jika anda bertaubat. Maka taubat anda di terima (Insya Alloh) asalkan anda memenuhi syarat yang 4 lainnya. Contohnya, hari inipun anda bisa segera taubat dari dosa-dosa anda karena hari ini (Alhamdulillaah) matahari belum terbit dari barat atau jika hari esok matahari masih terbit dari timur itu artinya pintu taubat masih terbuka lebar bagi anda. Maka segeralah bertaubat. Bahkan jika anda menginginkan, anda bisa sholat sunnah dengan niatan sholat sunnah taubat. Dalilnya adalah hadist shohih riwayat Tirmidzi dan dalam hadist tsb terdapat surat al Imron ayat 135. Silahkan di baca !
Setiap manusia tentunya pernah berbuat kesalahan dan tidak lepas darinya. Entah itu kepada orang tuanya, sahabatnya, tetangganya, dosennya, gurunya ataupun orang-orang yang lainnya. Bentuk kesalahan merekapun bermacam-macam entah itu menggunjingnya, menyontek, durhaka, mencela, memukulnya, mencubitnya, mencuri sampai menjatuhkan harga dirinya. Di saat manusia berbuat kesalahan, mereka ada yang menyesal kemudian langsung bertaubat kepada Alloh, ada juga yang mereka tidak menyesal sehingga terhalang untuk bertaubat kepada Alloh kemudian mereka terus-menerus berbuat kesalahan dan bertumpuklah dosanya. Sebaik-baik manusia adalah yang segera bertaubat ketika melakukan kesalahan bahkan Rosululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bertaubat kepada Alloh seratus kali dalam sehari. Anda bisa bayangkan !! Seorang Nabi yang telah di janjikan Alloh untuk terjaga dari dosa-dosa baik dosa masa lalu ataupun dosa masa datang masih senantiasa bertaubat kepada Alloh sebanyak seratus kali sehari?? Subhanalloh. Kemudian bagaimana dengan kita ?? Semoga kita termasuk golongan orang yang senantiasa bertaubat kepadaNya.
Dalam permasalahan taubat ini Beliau Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam telah mewasiatkan kepada kita dalam 3 hadist yang menakjubkan:
1. Dari Abu Burdah dari Al Aghor Al Muzani berkata bahwa Rosululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam telah bersabda “Sungguh keburukan itu telah membuat hatiku merasa gundah. Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Alloh seratus kali dalam sehari” (HR. Muslim).
2. Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda “Siapa saja yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat tenggelamnya, niscaya Alloh akan menerima taubatnya” (HR. Muslim).
3. Beliau juga bersabda “Setiap anak adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang orang yang bertaubat” (Hadist Shahih Riwayat Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan ad Darimi).
Para ulama mengatakan bahwa bertaubat dari segala macam dosa hukumnya wajib. Dan sesuatu yang telah dinamakan wajib harus dikerjakan dan tidak boleh di tinggalkan. Sebuah taubat di katakan sah jika memiliki 5 syarat. Sama halnya ketika anda berusaha masuk di kampus ini, andapun harus mempunyai beberapa syarat bahkan banyak syarat agar anda bisa di katakan di terima untuk menuntut ilmu di kampus ini. Begitu juga dengan taubat, taubatpun memilikinya. Diantaranya:
1. Ikhlas karena Alloh
Anda bertaubat tentunya harus mempunyai tujuan yang agung yaitu agar Alloh memaafkan dosa-dosa anda baik yang kecil maupun yang besar, baik yang di sengaja ataupun yang tidak disengaja. Kemudian agar Alloh mengganjar anda dengan pahala yang banyak dengan perbuatan taubat anda. Intinya, anda bertaubat atas dasar untuk mencari keridhoan Alloh.
2. Menyesali perbuatan
Perasaan menyesal anda karena sesuatu menunjukkan bahwa anda benar-benar ingin meninggalkan sesuatu tsb. Semisal anda mengatakan “Saya menyesal sekali berbuat demikian karena akibatnya justru menyedihkan demikian dan demikian” atau “saya menyesal sekali pinjam CD di rental fulan, ternyata banyak CD yang rusak sehingga saya di rugikan. Saya kapok” atau “Saya menyesal menyontek kemaren yang ternyata justru malah membuat saya semakin bodoh” atau kalimat-kalimat penyesalan lainnya yang bisa mengantarkan seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang telah di sesalinya. Intinya penyesalan bisa mengantarkan anda kepada taubat sedangkan tanpa merasa menyesal anda akan kesulitan untuk bertaubat.
3. Melepaskan diri dari perbuatan tsb
Syarat ketiga ini merupakan inti dari taubat maksudnya anda benar-benar melepaskan diri dari perbuatan buruk tsb karena seseorang tidak dikatakan bertaubat jika dia masih melakukan perbuatan yang telah dia taubati. Ini sungguh tidak masuk akal. Contohnya, anda mengatakan kepada teman anda “saya tidak akan mengganggumu lagi” tetapi ternyata dalam hati, anda masih mempunyai niatan untuk mengganggunya lagi. Maka apa yang anda lakukan ini adalah ejekan atau permainan kepada teman anda, dll. Kemudian dalam point ketiga ini ada rinciannya:
a. Jika dosa itu berupa meninggalkan kewajiban. Maka untuk terhindar dari dosa tsb anda harus melaksanakan kewajiban tsb.
Contohnya, anda sering meninggalkan sholat kemudian anda bertaubat. Maka yang harus anda lakukan adalah anda tidak lagi meninggalkan sholat, anda sering marah-marah dengan orang tua anda atau bisa di katakan anda kurang berbakti kepada mereka. Maka yang harus anda lakukan adalah anda segera berbakti kepada mereka, dll.
b. Jika dosa itu berupa perbuatan tipu daya atau kebohongan. Maka untuk terhindar darinya anda harus meninggalkan perbuatan tsb.
Contohnya, anda mempunyai kebiasaan menyontek ketika ujian dan kita sepakat ini adalah perbuatan buruk dan dosa. Maka untuk lepas dari dosa menyontek anda harus segera meninggalkannya. Kemudian contoh lain, anda mendapati bahwa teman anda telah mendapatkan uang dari jalan yang haram yaitu dia mencuri barang berharga dari teman anda yang juga sekelas. Lalu teman anda yang mencuri ini ingin bertaubat. Maka anda bisa menasehatkan kepadanya untuk mengembalikan harta yang di curinya, meminta maaf dan segera meninggalkan perbuatan mencuri tsb, dll.
4. Anda bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa datang
Jika suatu saat anda berniat ingin mengulanginya lagi bila ada kesempatan, maka taubat anda tidak di terima atau bisa di katakan anda hanya main-main dengan taubat anda. Contohnya, suatu hari anda bertaubat dari menyontek kemudian anda mempunyai niatan lagi untuk melakukannya di masa mendatang. Maka taubat anda tidak di terima karena anda tidak bersungguh-sungguh dalam melakukannya bahkan anda ingin melakukannya lagi. Taubat jenis ini adalah taubatnya orang yang lemah. Maksudnya orang yang lemah imannya. Semoga kami dan anda terhindar darinya. Dalam point ini intinya adalah tiada niatan untuk bermaksiat kembali.
5. Anda bertaubat di saat di terimanya waktu-waktu taubat. Maksudnya???...
Jadi waktu taubat itu terbagi menjadi 2 dan perinciannya :
a. Taubat harus di lakukan sebelum ajal tiba atau sebelum nyawa anda berada di kerongkongan.
Jika seseorang bertaubat di saat ajal tiba maka taubatnya tidak ada gunanya dan tidak ada manfaat baginya. Taubat ini di lakukan karena terpaksa sehingga tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak terima. Silahkan baca dalilnya dalam surat An Nisa’ ayat 18 dan surat Ghaafir ayat 84 dan 85.
Contohnya, ada seseorang gemar menyontek bahkan di semua ujian dia melakukannya. kemudian suatu saat dia menderita penyakit yang sangat parah sehingga mengharuskannya untuk di rawat di Rumah Sakit. Lantas dia sekarat dan hendak bertaubat dari menyontek kemudian dia mengatakan “Saya bertaubat dari menyontek sekarang”. Berdasarkan Surat An Nisa’ ayat 18 maka taubatnya tidak di terima dan dia meninggal dalam keadaan membawa dosa menyontek. Dan di hari kiamat kelak hanya ada 2 pilihan baginya : Alloh akan mengampuni dosa menyonteknya atau Alloh akan menyiksanya di neraka karena dosa menyonteknya. Semoga kami dan anda terhindar darinya.
b. Saat-saat taubat secara umum
Maksudnya, sebelum matahari terbit dari barat dan jika anda bertaubat. Maka taubat anda di terima (Insya Alloh) asalkan anda memenuhi syarat yang 4 lainnya. Contohnya, hari inipun anda bisa segera taubat dari dosa-dosa anda karena hari ini (Alhamdulillaah) matahari belum terbit dari barat atau jika hari esok matahari masih terbit dari timur itu artinya pintu taubat masih terbuka lebar bagi anda. Maka segeralah bertaubat. Bahkan jika anda menginginkan, anda bisa sholat sunnah dengan niatan sholat sunnah taubat. Dalilnya adalah hadist shohih riwayat Tirmidzi dan dalam hadist tsb terdapat surat al Imron ayat 135. Silahkan di baca !
Subscribe to:
Posts (Atom)